www.fokusnasional.id – Situs Candi Rajegwesi merupakan salah satu peninggalan sejarah yang signifikan di Kota Banjar, Jawa Barat, terletak di Desa Sinartanjung, Kecamatan Pataruman. Tempat ini berbagi sejarah yang kaya, yang mengungkapkan lapisan cerita peradaban masa lalu dan menunggu untuk diceritakan kepada generasi mendatang.
Menurut Kepala Bidang Kebudayaan Dinas dan Kebudayaan Kota Banjar, Tatang Heryanto, Candi Rajegwesi diakui sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Penelitian mengenai situs ini berfokus pada pendataan objek-objek budaya dan artefak yang ada di sekitarnya.
Pendataan ODCB di Rajegwesi melibatkan dua lokasi utama yaitu situs Candi Rajegwesi dan Bangkis, di mana terdapat beberapa artefak seperti keramik, fragmen pipisan, dan Terakota. Artifak-artifak ini memberikan gambaran menarik tentang kehidupan masyarakat di masa lampau dan pentingnya situs ini dalam konteks sejarah.
Melihat Lebih Dalam Sejarah dan Artefak di Candi Rajegwesi
Candi Rajegwesi tidak hanya sekedar situs arkeologi, tetapi juga merupakan saksi bisu dari sejarah peradaban Hindu-Buddha di Indonesia. Indikasi keberadaan candi ini tampak dari sebaran bata kuno yang ditemukan baik di permukaan bukit maupun di sekitarnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bata merah yang ditemukan diperkirakan berasal dari abad ke-8 Masehi, menjadi bukti awal dari aktivitas pembangunan candi tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Nanang Saptono juga mengindikasikan bahwa ada pecahan batu yang tersebar akibat dampak dari akar pohon di kawasan tersebut.
Pecahan batu tersebut terkonsentrasi di puncak bukit, di mana radius penyebaran memperlihatkan kondisi yang tidak utuh dan menyisakan tantangan bagi para peneliti. Dari pengamatan lebih lanjut, ditemukan tiga ukuran bata utuh berbeda yang mengindikasikan teknik konstruksi yang bervariasi di lokasi tersebut.
Menggali Rancang Bangun dan Fungsi Candi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, bentuk bangunan Candi Rajegwesi diperkirakan adalah batur tunggal yang terbuat dari bahan permanen seperti bata. Sementara tubuh dan atap candi mungkin dibangun dari material yang bisa mudah hancur seperti bambu atau kayu.
Rancangan konstruksi candi ini mirip dengan beberapa situs lain, seperti Situs Cibuaya dan Batujaya yang berasal dari era Kerajaan Majapahit. Candi Rajegwesi tidak didirikan di atas pondasi, tetapi langsung di atas tanah dengan menggunakan teknik yang mungkin disesuaikan dengan kondisi geologis setempat.
Dengan tidak adanya sudut-sudut bangunan yang teridentifikasi, denah candi tersebut menjadi suatu misteri. Namun, berdasarkan penyebaran reruntuhan, ada kemungkinan bahwa denah candi tersebut berbentuk segi empat dengan ukuran sekitar 6×6 meter, berfungsi sebagai tempat ibadah pada zaman itu.
Relasi dan Cerita Seputar Petilasan Prabu Songsong
Selain Candi Rajegwesi, ada juga keterangan mengenai petilasan Prabu Songsong dan Ratu Dewi Tunjung Mas. Menurut Juru Kunci, Kartosuwito, cerita masyarakat setempat menyebutkan bahwa dahulu ada batu tegak silindris yang mirip dengan kaca penutup lampu minyak, yang dikenal sebagai Prabu Songsong.
Batu tersebut, meskipun kini telah hilang, masih meninggalkan jejak sejarah yang menarik perhatian generasi mendatang. Keberadaan batu ini dianggap sebagai simbol penting yang menghubungkan masyarakat dengan masa Kerajaan Galuh pada abad ke-8 Masehi.
Dalam konteks sejarah, batu tersebut dapat diasumsikan sebagai batu lingga yang berpasangan dengan Yoni, menambah lapisan cerita yang berkaitan erat dengan keyakinan dan praktik spiritual masyarakat di masa lalu.


