www.fokusnasional.id – Profil Zaharah Zakaria, seorang politikus era Orde Baru, masih menarik untuk dibahas hingga saat ini. Ia dikenal sebagai salah satu wanita yang memberikan kontribusi signifikan dalam dunia politik Indonesia, meskipun saat itu banyak diisi oleh kaum pria. Keberaniannya mencalonkan diri dan berkiprah dalam lembaga legislatif menjadikannya inspirasi bagi banyak wanita di tanah air.
Zaharah Zakaria lahir pada 1 Februari 1942 di Kelapapati, Bengkalis, Riau. Ia adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menghargai pendidikan. Ayahnya, Zakaria bin Muhammad Amin, adalah seorang ulama terkemuka, sementara ibunya, Mariah binti Ahmad, adalah seorang ibu rumah tangga. Latar belakang ini mengajarkannya untuk selalu menghargai pengetahuan dan peran perempuan dalam masyarakat.
Sebagai seorang wanita yang aktif dalam dunia politik, Zaharah menjadi contoh emansipasi wanita di Indonesia. Kehadirannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Bengkalis membuktikan bahwa perempuan bisa berperan penting dalam pendidikan dan kebijakan publik. Dengan segala pencapaiannya, Zaharah menjadi sorotan, tidak hanya karena posisinya, tetapi juga nilai yang diusungnya.
Pendidikan dan Peluang yang Dicapai Zaharah Zakaria
Pendidikan adalah fondasi yang membentuk karakter Zaharah. Ia memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat dari tahun 1949 hingga 1955. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di jurusan guru agama di Tanjungpinang selama sepuluh tahun. Pendidikan yang ia tempuh membantunya memahami pentingnya peran dan tanggung jawab seorang pendidik.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Zaharah mengawali kariernya sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Bengkalis. Ia dikenal sebagai sosok pendidik yang berdedikasi, mendidik generasi muda dengan penuh semangat. Pengalamannya di dunia pendidikan membawanya ke posisi yang lebih tinggi, antara lain bekerja di Kantor Depag dan DPRD Bengkalis.
Dalam kariernya di DPRD, Zaharah tergabung dalam Fraksi Karya Pembangunan selama periode 1989 hingga 1994. Dia berhasil menyuarakan aspirasi rakyat, khususnya dari kalangan perempuan, dalam situasi dan kondisi yang tidak mudah. Langkah ini menjadi simbol emansipasi dan perjuangan bagi para wanita lain untuk terjun ke dunia politik.
Keluarga Besar dan Jejak Keturunan Zaharah Zakaria
Zaharah Zakaria berasal dari keluarga besar dengan berbagai latar belakang profesi. Ia memiliki tiga saudara laki-laki yang sukses dalam berbagai bidang, mulai dari pegawai negeri hingga dosen. Selain itu, ia juga memiliki saudara perempuan yang tidak kalah berprestasi sebagai guru dan tenaga medis.
Keluarga Zaharah tidak hanya dikenal dengan prestasi individu, tetapi juga peran mereka dalam pendidikan dan pengembangan masyarakat. Kakeknya dari pihak ibu, Haji Ahmad, merupakan seorang ulama yang mendirikan institusi pendidikan agama Islam di Bengkalis. Warisan pendidikan ini terus mengalir dalam darah Zaharah dan saudara-saudaranya.
Sebagai hasil dari pernikahan kedua orang tuanya, Zaharah memiliki saudara tiri, baik laki-laki maupun perempuan, yang juga menunjukkan komitmen yang sama dalam pendidikan dan pengabdian di masyarakat. Hal ini menciptakan jaringan kuat dalam dunia pendidikan, sosial, dan politik di Riau.
Perjalanan Karier Zaharah di Dunia Politik
Perjalanan Zaharah di dunia politik dimulai ketika ia terpilih sebagai anggota DPRD. Saat menjabat, ia dikenal sebagai sosok yang vokal dan mampu berinteraksi dengan berbagai kalangan. Komitmennya dalam menyuarakan aspirasi rakyat, terutama perempuan, membuatnya memiliki reputasi yang baik di kalangan masyarakat.
Selama periode jabatannya, Zaharah terlibat dalam berbagai kegiatan dan organisasi sosial, seperti Badan Kontak Majelis Taklim dan Himpunan Wanita Karya. Kegiatan ini tidak hanya memperluas jaringannya, tetapi juga memberikan ruang bagi aspirasi masyarakat untuk didengar. Dia banyak memberikan dukungan kepada isu-isu yang penting bagi perempuan dan keluarga di daerahnya.
Setelah menyelesaikan masa jabatannya, Zaharah melanjutkan karier di Kantor Kementerian Agama hingga waktu pensiun. Selama kerja di instansi tersebut, ia tetap berkontribusi kepada masyarakat melalui berbagai program pendidikan dan sosial. Hal ini menunjukkan dedikasinya yang konsisten sepanjang hidupnya.
Pengaruh dan Warisan Zaharah Zakaria dalam Masyarakat
Zaharah Zakaria tidak hanya dikenang sebagai politikus, tetapi juga sebagai pendidik dan aktivis perempuan. Selama karier politiknya, ia memperjuangkan hak-hak perempuan dalam berbagai kebijakan dan program. Dengan suara yang tegas, ia menjadi inspirasi bagi banyak wanita lainnya untuk berani terlibat dalam politik.
Warisan Zaharah di dunia pendidikan dan politik juga menginspirasi generasi muda untuk lebih terbuka terhadap kemungkinan berkontribusi dalam masyarakat. Keluarga dan koleganya selalu mengingat dedikasi dan kerja kerasnya dalam melayani masyarakat. Ia menunjukkan bahwa perempuan dapat tampil di ranah publik dengan keberanian dan visi yang jelas.
Sayangnya, pada 29 Oktober 2007, Zaharah Zakaria meninggal dunia pada usia 65 tahun. Namun, jejak yang ditinggalkannya akan selalu dikenang dan diingat oleh masyarakat. Dalam konteks emansipasi wanita di Indonesia, sosok Zaharah akan terus menjadi panutan bagi banyak ka generasi mendatang.


